5 TEMPAT ISTIMEWA DI MUKA BUMI (SERI PERJALANAN ISRA` MI’RAJ)

author avatar
PP Nahdlatussubban
Jan 23, 2026 1 week ago
hero image

Oleh : Gus Zain Rohmatika Murni*)

Dalam kitab Qisshah al-Mi’raj, Sayyid Ahmad ad-Dardir menyampaikan bahwa dalam perjalanan isra` dari Mekkah menuju Palestina, Rasulullah berhenti di beberapa titik lokasi. Tempat-tempat yang menjadi “rest area” Rasulullah tersebut, merupakan tempat terbaik di penjuru dunia. Dimana sajakah tempat tersebut?

Madinah al-Munawwarah

Ketika Rasulullah naik buraq dalam perjalanan isra`, beliau sampai di suatu daerah yang dekat dengan kebun kurma. Kemudian Jibril meminta Nabi Muhammad untuk turun dan mendirikan shalat di tempat tersebut. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan. Kemudian sang malaikat bertanya, apakah engkau tahu wahai Nabi, dimana engkau berhenti tadi? Kanjeng Nabi kemudian menjawab, tidak.

“Itu adalah Thaybah. Disanalah engkau kelak akan berhijrah,” jawab malaikat Jibril. Thaybah yang dimaksud adalah kota yang saat ini kita kenal dengan kotanya Nabi, yaitu Madinah al-Munawwarah.

Madyan

Rasulullah melanjutkan perjalanan dengan buraq. Seketika kemudian, beliau berhenti lagi di suatu daerah. Kemudian Nabi mendirikan shalat, dan setelah itu kembali melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, Jibril bertanya. “Apakah engkau tahu wahai Nabi, dimana engkau berhenti tadi?” Rasulullah lalu menjawab, tidak.

“Itu adalah daerah bernama Madyan, tempatnya Syajarah Musa (Pohon Musa),” jawab sang Malaikat.

Bukit Thursina

Perjalanan berlanjut, hingga kemudian Rasulullah kembali berhenti di suatu daerah dataran tinggi. Beliau kembali mendirikan shalat disana. Setelah itu, beliau naik buraq dan melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, Jibril bertanya. “Apakah engkau tahu wahai Nabi, dimana engkau berhenti tadi?” Rasulullah lalu menjawab, tidak.

“Itu adalah bukit Thurisina, tempat dimana Nabi Musa menerima wahyu dan dikehendaki Allah untuk bisa “berbicara” kepada Sang Pencipta,” terang malaikat Jibril.

Betlehem

Perjalanan masih berlanjut, hingga kemudian Nabi Muhammad kembali berhenti yang keempat kalinya, dan mendirikan shalat di tempat tersebut. Kemudian Jibril kembali bertanya, “Apakah engkau tahu wahai Nabi, dimana engkau berhenti tadi?” Kanjeng Rasul lalu menjawab, tidak.

“Itu adalah Betlehem, tempat dulu dimana Nabi Isa bin Maryam dilahirkan, jawab Jibril alaihissalam.

Masjid al-Aqsha

Perjalanan sakral isra` menuju pemberhentian terakhir di suatu tempat yang teduh. Ada bangunan kecil disana, yang menunjukkan bahwa tempat tersebut dimuliakan. Itulah Baitul Maqdis, yang hari ini kita kenal dengan Masjid al-Aqsa. Nabi Muhammad kembali mendirikan shalat. Kali ini Rasulullah shalat berjamaah, mengimami seluruh Nabi dan Rasul, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat sayyiduna Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah. Hal ini termaktub dalam Tafsir al-Thabari Jami’ al-Bayan. Sesaat setelah itu beliau melanjutkan perjalanan mi’raj menuju langit bersama dengan malaikat Jibril.

Kisah perjalanan Nabi dalam isra` tersebut memiliki beberapa hikmah yang dapat kita petik, antara lain:

  1. Nabi Muhammad saw berhenti 5 kali untuk mendirikan shalat. Hal ini merupakan jumlah yang sama seperti syariat shalat yang kita laksanakan pada hari ini.
  2. Shalat menjadi hal yang paling disukai oleh Rasulullah. Perilaku ini bisa kita tiru, yaitu jika beristirahat di suatu tempat, jika waktu dan keadaan memungkinkan, agar mendirikan shalat di tempat tersebut.
  3. Nabi Muhammad sangat menghargai sejarah beserta tempat bersejarahnya. Ini menjadi landasan kaum Muslim untuk tidak anti terhadap tempat yang bersejarah. Bukan mengkultuskan, namun menjaga warisan yang menjadi penyambung antara masa lampau dengan masa kini.
  4. Nabi Muhammad merupakan penutup para Nabi dan Rasul, sekaligus menjadi pemimpinnya. Hal ini disimbolkan dengan shalat jamaah yang dilakukan beliau, dimana beliau menjadi imamnya.
  5. Rangkaian perjalanan isra` adalah bagian dari mukjizat Rasulullah dan menjadi ranah keimanan. Membaca rangkaian perjalanan Nabi di atas, panjang rute perjalanan, beserta shalat yang beliau lakukan, tentu sulit jika dibayangkan dengan logika. Maka cukup diimani dan dipercayai. Tentu ada bagian yang menjadi ranah keimanan yang disepakati oleh para ulama, dan memang ada bagian yang masih diperdebatkan.

Semoga bermanfaat.

*Kepala SMP Islam, Ketua FKDT Pacitan, Sekretaris Rijalul Ansor Pacitan, Sekretaris RMI NU Pacitan